solfaCorners

Wednesday, Sep 08th

Headlines
Solfacorners - Share and Sale
 

Kamu yang Pertama

User Rating: / 0
PoorBest 

 

Kamu yang Pertama

 

Tommy masuk bersama Pak Anwar, wali kelas sekaligus guru matematika di kelas tersebut. Tommy berkulit putih. Bukan putih pucat seperti kulitnya orang China. Bukan juga putih yang kemerah-merahan seperti kulit orang Eropa. Putihnya Tommy adalah putih yang khas Indonesia. Tubuhnya jangkung, sekitar 173cm. Tidak terlalu berbeda dengan para siswa sekelasnya. Rambutnya pendek rapi. Pakaiannya juga rapi dan wangi namun tidak berlebihan.Tommy masuk sebagai murid baru. Kebetulan hanya Irma yang tidak memiliki teman sebangku jadi Pak Anwar menyuruh Tommy duduk dengan Irma.

“Irma.” Gadis itu langsung mengulurkan tangannya dengan tersenyum. Tommy balas tersenyum ketika menyambutnya.

Irma merasa beruntung menjadi gadis pertama yang berkenalan dengan Tommy di kelasnya, bahkan duduk sebangku dengannya. Irma yang supel mampu menarik hati Tommy. Meski dia tidak sendirian. Banyak sekali teman-teman Irma yang juga diam-diam atau terang-terangan tertarik pada Tommy. Setelah 2 bulan Irma dan Tommy resmi berpacaran

Tommy anak bungsu dan anak laki-laki satu - satunya dalam keluarga. Irma sudah pernah bertemu dengan ibu dan beberapa kakak perempuan Tommy. Dan mereka menyukainya. Tommy pendengar yang baik, dia rela mendengarkan Irma curhat tentang hal-hal tidak penting hingga berjam-jam. Dia tidak keberatan menemani Irma menyaksikan film Twilight belasan kali dan tidak merasa bosan ketika Irma menceritakan bagaimana tergila-gilanya dia pada Robert Pattinson. Tommy perhatian. Hampir setiap hari sebelum tidur dia menyempatkan dirinya menelpon atau mengirim sms kepada Irma. Tommy setia. Tidak peduli berapa banyak gadis cantik yang mendekatinya tapi dia tetap tidak tergoda. Padahal Irma bukanlah gadis paling cantik yang ada di sekolah. Dia hanya percaya diri. Dia juga ramah, berjiwa sosial, pemberani dan pintar. Mungkin hal itulah yang justru memancarkan kecantikan batinnya. Tommy sangat klik ketika ngobrol dengan Irma. Mereka sama-sama suka membaca, makan es krim, nonton film romantis dan sama-sama mengidolakan Peterpan. Semuanya begitu sempurna.

Yang membuat Irma terganggu adalah Angga. Angga adalah mantan kekasih Irma. Mereka berpacaran ketika masih kelas 1. Angga berasal dari keluarga berantakan dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar untuk menekuni hobinya daripada menghabiskan waktu di rumah. Angga adalah atlet andalan di sekolah mereka. Kapten di tim basket sekolah. Wakil sekolah dalam kejuaraan wushu nasional tingkat pelajar. Dan beberapa kali memenangkan lomba balap motor tingkat pelajar se - provinsi. Tubuhnya atletis. Tinggi dan badannya kekar. Kulitnya kecoklatan karena dia menyukai aktivitas out door. Tidak sedikit siswi di sekolah itu yang menyukainya. Tapi Irma tidak. Apalagi pada saat-saat ini. Angga tanpa malu-malu menunjukkan rasa tidak sukanya pada Tommy. Setiap kali mereka berpapasan dia akan memandang mereka dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak suka itu. Irma faham kenapa Angga bersikap seperti itu. Angga cemburu. Mereka baru saja putus sekitar empat bulan lalu. Beberapa hari sebelum liburan kenaikan kelas. Irma yang meminta putus karena dia tidak suka dengan sikap Angga. Setelah hampir setahun pacaran dia mulai berubah. Dia lebih mementingkan dirinya sendiri. Dia lebih suka membicarakan pertandingan sepak bola atau balap motor daripada mendengarkannya curhat. Angga lebih suka menyaksikan film horror atau laga yang membuat Irma sangat tidak nyaman. Angga lebih suka menghabiskan akhir pekannya dengan melihat pertandingan bola entah di TV atau nonton bareng di kafe daripada keluar dengan Irma. Angga tidak segan-segan mengucapkan kata-kata kasar ketika dia tidak menyukai seseorang atau sesuatu. Dan kini Angga melakukannya pada Tommy dan Irma.

Angga sepertinya memang mencari gara-gara. Irma pernah beberapa kali melihat Tommy sedang bersitegang dengan Angga.

“Aku melihat kamu dengan Angga tadi di dekat WC cowok.” Irma memberitahu Tommy ketika mereka sedang mengerjakan soal Bahasa Indonesia di dalam kelas. “Apakah dia mengancam kamu lagi?” Lanjutnya. Tommy menghentikan kegiatannya menulis sejenak. Lalu dia memandang Irma yang sedang duduk di sebelahnya.

“Angga itu… pernah pacaran denganmu?” Tommy balik bertanya. Irma mengangguk, menyapu rambutnya ke belakang telinganya.

“Tapi kami sudah putus sebelum aku bertemu kamu. Jangan hiraukan apapun yang dia katakan padamu, ya.”

Tommy tidak bertanya lagi. Dia kembali mencermati soal-soal yang ada di hadapannya. Irma jadi merasa tidak enak. Dia yakin Angga pasti telah mengancam Tommy. Angga juga pernah menelfon Irma dan bertanya apakah dia benar-benar berpacaran dengan Tommy. Irma tentu saja mengiyakan. Meskipun dia tahu Angga tidak suka.

“Angga itu maunya apa sih, Nda? Aku nggak ngerti deh.” Irma mencelupkan kentang gorengnya pada saus tomat ketika mengatakan itu. Dia sedang berada di kantin bersama Nanda sahabatnya. Mereka berbeda kelas. Nanda bertubuh mungil dengan tinggi hanya 155 cm. Rambutnya lebih pendek dibanding rambut Irma yang nyaris sepinggang.

“Dia masih mengancam Tommy?” Tanya Nanda.

“Ya sepertinya begitu. Aku ‘kan jadi nggak enak dengan Tommy. Aku sudah nggak ada hubungan apa-apa dengan Angga. Tapi kalau seperti ini caranya Tommy akan berfikir kalau aku masih pacaran dengan Angga.”

Nanda mengangguk. “Dan, kalaupun Tommy percaya kalian putus. Dia bisa saja mundur kalau tiap hari diintimidasi oleh Angga. Ya, nggak?”

“Yup. Sekarang aku harus bagaimana donk?”

“Mau nggak mau sih Angga harus dikasih pelajaran, Ir. Dia itu sakit,” Nanda mengucapkan kata-kata itu sambil jari telunjuknya menyilang dahinya dengan ekspresi seperti orang hendak muntah.

Sore itu Irma kembali mendapati Angga dengan bahasa tubuhnya yang amat mengintimidasi berdiri angkuh di depan Tommy. Irma baru keluar kelas karena mengikuti les Fisika. Angga pasti baru selesai bermain basket karena dia masih membawa bola dan berpakaian olahraga. Kausnya basah, begitu juga rambutnya. Tommy tidak ada kegiatan apa-apa. Dia memang sengaja datang untuk menjemput Irma. Irma berlari mendekati mereka lalu dengan kasar mendorong tubuh Angga agar menjauhi Tommy. Bola yang dipegang Angga jatuh ke tanah dan menggelinding hingga akhirnya jatuh ke saluran air yang berjarak sekitar 5 meter dari situ.

“Angga, please deh. Jangan ganggu aku dan Tommy lagi. Kita ‘kan sudah putus.” Katanya dengan nada tidak suka. Angga tidak membalas tatapannya. Tapi dia tampak menunjukkan wajah bermusuhan pada Tommy. Sementara itu Tommy tetap bersikap acuh namun menghindari tatapan marah dari Angga.

“Jauhi dia atau kamu akan menyesal.”

Irma tidak tahu apakah ancaman itu ditujukan pada dirinya atau Tommy namun dia tidak peduli, intinya sama saja yaitu Angga tidak menginginkan Irma berpacaran dengan Tommy.”

“Sudah kita pergi saja dari sini.” Irma lalu menggandeng tangan Tommy dan dengan setengah menyeret mengajaknya meninggalkan tempat itu. “Tom, sumpah aku sudah putus dengan Angga sebelum bertemu denganmu.” Katanya begitu mereka sampai di tempat parkir dan mendekati mobil. Tommy tidak menyahut. Dia membukakan pintu mobil dan menyuruh Irma masuk. Kemudian dia juga masuk dari pintu mobil yang satunya. Mukanya masam. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih.

Irma menghela nafas sambil mengepalkan tangannya. Angga tidak berhak melakukan itu. Dia sendiri yang bersikap kasar dan sewenang-wenang sehingga Irma tidak tahan padanya dan akhirnya meminta putus.

“Sepertinya kita harus bicara, Ir.” Kata Tommy.

“Tommy, please. Aku dan Angga bukan siapa-siapa. Dia tidak berhak melakukan ini pada kita. Kamu mestinya percaya padaku.” Katanya dengan nada setengah memohon. Dia juga sebenarnya tidak tahan dengan sikap Angga. Tapi dia berusaha menunjukkan pada Tommy bahwa dia serius dengan hubungan mereka. Setidaknya dengan begitu Tommy juga tidak akan ragu dan merasa tertekan seperti sekarang ini. Lama mereka terdiam. Tommy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang di lalu lintas yang tidak terlalu padat.

“Angga benar, hubungan kita tidak akan berhasil.”

“Tommy… ?” Irma cemas menyadari kemungkinan bahwa Tommy akan mengakhiri hubungan mereka.

Tommy menepikan mobilnya ketika mereka sampai di sebuah taman kota. Dia melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya. Kemudian dia mulai bercerita.

Alasan dia pindah sekolah adalah karena orangtuanya mengetahui bahwa dia seorang gay. Sebelumnya dia belajar di sekolah khusus untuk murid laki-laki. Mereka malu mengetahui itu sehingga mereka memutuskan untuk memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Mereka berharap Tommy bisa berubah.

“Kenapa aku yang kamu buat jatuh cinta? Kenapa aku yang kamu pilih?”

“Karena kamu yang pertama kali aku kenal.” Tommy menjawab tanpa mampu memandang balik pada Irma. “Anggap saja aku egois. Kamu boleh mengatakan apapun tentang aku. Aku memang bersalah padamu.” Lanjutnya.

Irma faham sekarang. Itulah sebabnya orangtua Tommy sangat senang ketika Irma pertama kali datang ke rumah Tommy. Tommy mengenalkannya sebagai pacarnya. Itu karena mereka berfikir Tommy telah menjadi normal lagi.

Selanjutnya Irma hanya mendengarkan. Dia tidak menyela lagi. Namun setelah itu dia menangis. Tommy mengulurkan tangannya memberikan selembar tisu yang dia ambil dari kotak tisu yang ada di depannya.

“Yang aku tidak menyangka, aku bertemu Angga di sini.” Katanya.

“Kamu mengenal Angga?”

Tommy mengangguk. “Dia temanku di Friendster dan kami sama-sama menjadi anggota di milist gay. Dia yang pertama kali mengenaliku. Dia melihatku ketika kami berpapasan di WC cowok. Aku sudah berusaha menghindar tapi percuma. Aku memang gay. Meskipun tidak bertemu dengan Angga, tetap saja aku memang berbeda. Aku tidak bisa mencintai perempuan. Aku tidak bisa mencintai kamu.”

“Jadi… Angga juga gay?” Irma semakin terpukul ketika melihat anggukan kepala Tommy. Namun dia hanya bisa menelan ludah dengan perasaan yang semakin sakit.

“Dia berpacaran denganku selama tahun pertama kami di SMA.” Ujarnya pelan sambil meremas tisu di tangannya.

“Itu sebelum dia menyadari kalau dirinya gay. Dia baru sadar setelah beberapa bulan jalan denganmu. Itu sebabnya kalian putus. Dia sudah menceritakannya padaku. Dia tidak tahu bagaimana cara memutuskanmu dengan cara yang tidak menyakitkanmu. Karena itulah dia bersikap menyebalkan pada saat-saat akhir hubungan kalian. Dia membuatmu tidak tahan dengan sikapnya agar kamu meminta putus. Dengan begitu akan mengurangi perasaan bersalahnya padamu. Tapi sungguh, aku tidak tahu kalau gadis malang yang pernah dia ceritakan itu kamu.”

Tommy memijit-mijit dahinya sambil memejamkan mata.

“Angga memintaku untuk menjauhimu karena dia tidak mau melihatmu terluka lagi karena cinta.”

Irma tidak mengatakan apapun. Tapi tetap saja tidak bisa memahami bagaimana bisa dia sampai dua kali memacari laki-laki yang ternyata gay. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahuinya dari awal? Atau setidaknya merasakan tanda-tandanya. Irma mencoba mengingat-ingat lagi saat pertama kenal dengan Tommy. Dan potongan-potongan fakta mulai berkelebat di ingatannya. Tommy terlalu rapi untuk ukuran laki-laki. Dia tidak pernah mengatakan kalau dia suka sepak bola atau balap motor. Tommy mengidolakan Robert Pattinson dan sangat setuju dengan pendapat Irma yang menyebut bintang Twilight itu sangat tampan. Tommy terlalu sensitif. Bahkan kadang-kadang lebih sensitif daripada Irma sendiri. Baiklah, semua tanda itu mungkin bisa menjadi petunjuk bahwa Tommy bukan laki-laki kebanyakan. Tapi Angga? Kenapa Angga juga?

Tommy memandang Irma sejenak, lalu menyandarkan bahunya pada kaca mobil yang tertutup. “Angga pernah mengalami trauma pada masa kanak-kanak yang membuatnya tidak bisa mencintai perempuan sebagai pacar.”

Irma merenung. Mungkin ini ada hubungannya dengan orangtuanya yang bercerai sejak dia masih kecil. Angga memang tidak dekat dengan ibunya. Dia nyaris tidak pernah menyebut ibunya saat ngobrol dengan Irma.

“Aku sayang padamu, tapi sebagai teman. Mungkin itu juga yang dirasakan Angga padamu sehingga dia berusaha selalu melindungi kamu dari aku. Maafkan aku, Irma. Aku sudah sangat menyakitimu.”

Irma tidak menjawab. Dia masih berkutat dengan perasaannya sendiri. Dia masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja diungkapkan Tommy.

“Kalau masih boleh aku meminta kamu tidak menganggapku sebagai makhluk asing atau orang dengan penyakit menular. Aku sama normalnya dengan kalian dan masih bisa menjadi sahabatmu.”

Irma sudah tidak punya kata-kata lagi untuk diucapkan pada Tommy. Dia tidak menyangka kalau mencintai Tommy bisa membuatnya terluka seperti ini. Menjadi orang yang pertama kali berkenalan dengan Tommy ternyata harus dibayar dengan perasaan pedih dan terluka seperti ini. Seandainya Tommy memutuskan hubungan mereka karena ada gadis lain, mungkin dia masih sanggup menerimanya. Setidaknya dia memiliki alasan untuk membenci Tommy seperti dulu dia membenci Angga. Tapi yang terjadi sekarang bukan begitu. Dan, kini dia juga didera perasaan bersalah terhadap Angga yang ternyata selama ini hanya ingin melindunginya.

 

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."