Comic Review: The Boys (on going)
Garth Ennis dan Darick Robertson
Kalo yang muncul di halaman pertama adalah sebuah boots yang sedang mengijak kepala seorang superhero sampe berdarah-darah, dan kalimat pertama adalah ‘I’m gonna fucking have you. You cunts.’, Kamu pasti udah tahu kalo ini adalah komik hardcore. Cliché-nya, Ini bukan komik zaman baheula yang sarat akan nilai-nilai sosial.
Ennis bisa menjelma sebagai seorang schizophrenic writer – dia bisa menulis cerita yang amazingly and awkwardly powerful, namun juga bisa sekaligus mendidik walaupun dengan cara yang agak nyeleneh. Di "The Boys" dia mulai serinya dengan seperti penjabaran saya diatas, dan langsung memperkenalkan kita dengan karakter 'Wee Hughie' (sebelum pacarnya tidak sengaja terbunuh oleh seorang superhero). Sedangkan Robertson sangat menguasai bidangnya, image-image didalam semakin terasa darknya. garis-garisnya tebal dan tegas. Cukup menarik di mata.
Dalam komik superhero yang satu ini. Garth Ennis dan Darick Robertson membenci superhero. Mereka masih oke dengan magic (kekuatan superhero murni yang datang secara alami, bukan 'mutasi') dan mereka muak kalo liat superhero pake spandex. Ini yang membuat komik indie ini menjadi menarik, style dan cerita yang dihadirkan benar-benar diluar dugaan. Coba bayangkan kalo superhero melakukan tindak kriminil. Bukan cuma satu atau dua, tapi ratusan superhero diseluruh dunia pernah melakukannya. Harus ada yang menghentikan toh? Nah, Butcher dan kawan-kawan adalah "The Boys" yang akan menjadi pemberantas superhero. Membantai semua superhero yang kelewat batas.
Sebelumnya saya beritahu sekali lagi, ini adalah komik hardcore. Sudah tentu dalamnya explicit. Banyak darah dimana-mana, sex dan omongan kasar bertebaran hampir di setiap seri.


